Mengenal Diri Sendiri


Teringat waktu menghadap dosen semester lalu. Karena beliau tidak meluluskan aku kuliah. Kami berbincang-bincang. Beliau memperlihatkan total nilaiku yang memang tidak mencukupi untuk lulus. Beliau menanyakan padaku alasan aku sampai tidak bisa lulus. Kujawab, karena aku tidak mampu. Setelah diteliti lagi ternyata dari tugas-tugas dan ujian yang kutempuh nilai-nilaiku tidak buruk, tapi ada tugas yang tidak kukumpulkan dan presentasi yang tidak kuhadiri. Itu yang membuat nilaiku jatuh. Selain itu aku pun tidak memenuhi standar kehadiran kuliah. Beliau mengatakan, tidak ada mahasiswa yang sampai bisa diterima di universitas ini kalau dia tidak pandai. Kata beliau, apakah kamu kerja?. Kujawab, “Iya.  Saya tidak mampu membagi waktu antara kerja dan kuliah”. Beliau menjawab,” Sepertinya kamu belum mengenal dirimu sendiri”. Aku kaget. Aku belum mengenal diri sendiri ? .  Aku ternyata belum mengenal diriku sendiri.  Ya, aku baru menyadari bahwa aku belum mengenal diriku sendiri. Indikasinya, aku tidak bisa mengatur diriku sendiri. Terlalu banyak target , dan target itu terlalu tinggi untukku. Akhirnya tidak ada satu pun target yang tercapai.

Di alin waktu, aku berbincang dengan seorang sesepuh di kantor. Beliau orang yang relijius. Saat kami di tengah perbincangan, beliau mengatakan padaku, “Mbak, sudah mengenal diri sendiri ?’. Kujawab, “Belum Pak. “Mau saya ajari?”, beliau menawarkan. “Mau”, jawabku.  Sebelumnya beliau memberikan pengantar mengenai ‘mengenal aku’.

Beliau menunjuk bajunya. Kata beliau, ‘Ini bajuku. Baju yang dipakai oleh aku. Ini tanganku, ini mataku, ini hidungku, dst. Tubuh kita adalah milik Tuhan YME. Kita hanyalah pemakai.  Setiap manusia terdiri atas tubuh, hati nurani, nafsu dan ‘aku’. Lalu, siapakah ‘aku’ ?’.  Kemudian beliau memintaku duduk relaks.  Santai dan tidak mengucapkan satu kata pun sampai nanti selesai pelajaran mengenal diri sendiri itu. Lalu aku diminta memejamkan mata.

Kemudian sambil memejamkan mata tersebut beliau meminta padaku untuk melihat apa yang ada di sebelah kiri dan kananku. Dalam ‘pandanganku’, agak remang-remang, disebelah kiri, aku melihat beliau duduk di depan komputer , di sebelah kanan aku melihat Ibu tua , meja dan orang-orang yang ada di sebelah kiri. Kemudian masih dalam relaks dan terpejam, aku diminta keluar ruangan, lalu keluar kantor. Kemudian aku diminta menuju rumahku sendiri. Aku melihat dengan pagar rumahku. Suasananya terang, aku melihatnya seperti saat siang hari biasa. Aku ucapkan salam. Aku ucapkan salam lebih keras lagi, teriak . Tubuhku tetap dalam keadaan duduk di kantor dengan mata terpejam). Aku buka pagar, terlihat sosok  “mak”(tetanggaku) sedang menyetrika. Kemudian aku masuk, melihat keadaan ruang tamu, dapur, kamar tidur. Lalu aku mengambil pakaian yang tergantung di tembok. Warnanya kebetulan putih. Kemudian aku kembali lagi ke kantor. Akhirnya aku diminta membuka mata. Beliau menanyakan hal-hal yang kulihat. Kuceritakan, tapi aku juga merasa lelah, seperti berjalan jauh. Jawaban beliau karena aku tidak relaks.  Beliau menjelaskan, tadi yang melihat ke kanan , ke kiri, lalu ke rumah , mengucapkan salam. Itu adalah “aku” yang sebenarnya. “aku” sebenarnya di tubuh ini. Beliau mengemukakan alasan (sebelum memulai pelajaran tadi)  mengapa kita harus mengenal ‘aku’.  ‘aku’  adalah nantinya yang akan dimintai pertanggung jawaban atas segala yang dilakukan. Hal-hal yang kita lakukan sekarang , belum tentu “aku” menyadarinya. Sadar dalam hal ini, bukan melek biasa . Lebih lanjut lagi beliau menjelaskan, sadar bahwa apa yang kita lakukan diawasi oleh Tuhan.  Ya, level beliau sudah lebih tinggi. Aku sempat diajak untuk merasakan dan menyadari bahwa kita itu diawasi oleh Tuhan YME.  Kupejamkan mataku lagi, relaks. Beliau mengatakan , ‘Coba panggil nama Tuhan . Panggil lagi, panggil lagi, sampai kita merasakan seakan-akan  Tuhan sangat dekat. Dan yang kurasakan saat itu, ternyata Tuhan sangatlah dekat. Dan selalu ada , melihat kita hambanya.

Agar kita tetap connect dengan “aku” masing-masing, caranya kita harus tenang . Apa pun yang kita lakukan , lakukan dengan tenang , sadar dan hati bersih. Ikhlas dengan keadaan yang ada sekarang, dan berusaha untuk melakukan apa yang seharusnya kita lakukan dan lakukan itu dengan baik.

Kita memang tidak selalu bisa merasakan hati tenang ini. Karena terkadang pikiran kita ‘kacau’, aneh-aneh oleh aktivitas dan gangguan yang kita alami seharian. Maka dari itu, harus terus-menerus dilatih.

Semoga saya pun bisa selalu connect dengan ‘aku’.  Menyadari bahwa sebenarnya dalam hidup ini, ‘aku’ harus selalu diajak melakukan segala hal yang kita lakukan , dengan kata lain sadar , menyadari yang kita lakukan, sehingga hasilnya hal-hal yang kita lakukan adalah yang baik-baik. Amin.

Semoga Bermanfaat.

4 Komentar (+add yours?)

  1. ofa ragil boy
    Jan 21, 2009 @ 09:37:12

    thanx infonya, kiranya doa’nya di dengar, soalnya artiketnya bermanfaat khususnya bagi saya. makasih

  2. oogitu
    Jan 21, 2009 @ 14:11:38

    Sama sama.
    Salam kenal n makasih udah mampir ya🙂

  3. surya
    Feb 10, 2010 @ 12:56:35

    bagus….ijin copy n’ buat link ke sini ya…

  4. oogitu
    Feb 11, 2010 @ 15:49:31

    monggo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: