UU Polisi Tidur


Begitu banyak polisi tidur bertebaran di Surabaya. Menurut fungsinya, polisi tidur termasuk dalam Pengendali pemakai jalan.  Pengendali pemakai jalan adalah alat tertentu untuk pengendalian
atau pembatasan terhadap kecepatan, ukuran muatan kendaraan
pada ruas-ruas jalan tertentu yang terdiri dari alat pembatas kecepatan, alat pembatas tinggi dan lebar kendaraan.

Yang dimaksud dengan pengendali pemakai jalan adalah berupa gundukan jalan, median jalan dan portal.

Tapi bila polisi tidur itu dibangun di jalan-jalan yang tidak perlu dipasang  , kemudian bentuknya yang bervariasi terkadang membuat bagian bawah sepeda motor terbentur.  Sebetulnya bagaimanakah aturan pembangunan polisi tidur itu ?

Dari hasil browsing di internet (http://www.lantas.polri.go.id/vademikum/vademikum-kapita-bab-V.pdf) ditemukan aturan ini, Berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 3 Tahun 1994 Tentang Alat Pengendali Pemakai Jalan
1) Alat pengendali dan pengaman pemakai jalan dimaksud adalah :
a) Alat pengendali pemakai jalan digunakan untuk pengendalian atau pembatasan terhadap kecepatan, ukuran muatan kendaraan pada ruas-ruas jalan tertentu, terdiri dari :
(1) Alat pembatas kecepatan adalah kelengkapan tambahan pada  jalan yang berfungsi untuk membuat pengemudi kendaraan bermotor mengurangi kecepatannya dengan cara peninggian sebagian badan jalan yang melintang terhadap sumbu jalan, dengan ketentuan sebagai berikut :
(a) bentuk penampang melintang menyerupai trapesium.
(b) dan bagian menonjol diatas badan jalan maksimum 12 cm dan penampang kedua sisinya mempunyai kelandaian 15 %.
(c) dengan lebar mendatar bagian atas proporsional dengan bagian menonjol diatas badan jalan dan minimum 15 cm.
(d) Ditempatkan pada jalan dilingkungan pemukiman, jalan lokal III C dan jalan-jalan yang sedang dilakukan pekerjaan konstruksi.
(e) Penempatannya didahului dengan dengan pemberian tanda dan pemasangan rambu lalu lintas.
(f) Diberi tanda berupa garis serong dari cat berwarna putih.

Selain butir-butir di atas ,kalau menurut Perwali Pemkot Yogyakarta Nomor 81 Tahun 2007 tentang Alat Pengendali Dan Pengaman Pemakai Jalan (http://jogja.go.id/index/extra.detail/1767/untuk-kenyamanan-pemakai-jalan-pemkot-terbitkan-perwal-81-2007.html) , polisi tidur itu juga harus memenuhi syarat berikut :

Penempatan dilakukan pada posisi melintang tegak lurus dengan jalur lalu lintas.

Lokasi penempatan berjarak minimal 25 meter dari persimpangan sedang pengulangan penempatan berjarak minimal 100 meter.

Surabaya pun mempunyai aturan untuk cara pengajuan ijin pembangunan polisi tidur ini , diatur dalam yaitu Perda Kota surabaya No. 10 tahun 2000.

Kemudian dari sumber lain dikatakan bila pembangunan polisi tidur  tidak memenuhi aturan di atas bisa menyebabkan sakit pinggang, sakit punggung, penyakit ambeyen.

Sebenarnya masalah polisi tidur ini sudah banyak dikomplain banyak orang . Semoga dari sini lebih banyak yang lebih tahu aturan pembangunan polisi tidur yang benar.

Semoga artikel ini bermanfaat.

6 Komentar (+add yours?)

  1. ayu
    Mei 21, 2011 @ 10:40:36

    Bener Banget, tapi banyak juga jalan2 yang harusnya ada polisi tidur dan telah banyak memakan korban tapi tidak diindahkan oleh para aparat setempat dan menjadikan itu salah satu hal penting, entah tau apa pura2 tidak tau. Yang bikin saya heran terutama di daerah medaeng surabaya selatan, persoalan polisi tidur cuma salah satu dari persoalan yang begitu banyak ada di daerah ini, contoh yang paling parah adalah mengadakan acara hajatan/perkawinan/sunatan dll ditengah2 jalan umum sehingga membuat para warganya semau2nya menutup akses jalan tanpa memikirkan orang lain. Malah tidak jarang dikawal polisi segala.. unbelieveble!!!

    Tidak habis pikir saya dengan apa saja kerja RT,RW,Kel,Kec,Pemda setempat di surabaya selatan ini yaaa????

  2. oogitu
    Sep 04, 2012 @ 15:11:43

    kadang ukuran polisi tidur setinggi gunung haha, malah natap bawah motor. Kalo hajatan di gedung khan keluar biaya gedung, makanya hajatan di rumah. Tapi itu memang privasi mereka, cuma ya nutup jalannya itu yang repot haha.

  3. oogitu
    Jan 16, 2013 @ 13:34:57

    memang begitu mbak ayu. harus sabar kalo ada hajatan di tengah jalan, tidak cuma di surabaya selatan aja soalnya

  4. wedding stylist albany ny
    Jan 27, 2013 @ 03:51:04

    I’m amazed, I have to admit. Rarely do I come across a blog that’s
    equally educative and entertaining, and let
    me tell you, you have hit the nail on the head. The issue is
    something too few folks are speaking intelligently about. I’m very happy I stumbled across this in my hunt for something relating to this.

  5. oogitu
    Feb 07, 2013 @ 22:54:38

    Well, thank you for the compliment. I’ll try to write other article that hopely can be useful for everyone.
    Thank you for following my blog. I wait for your other visit here.
    Salam kenal

  6. Shen Shan
    Jan 26, 2015 @ 14:43:27

    Bnyk di yogyakarta yg blm mengindahkan hal tsb….hnya dng ilmu waton (asal) dng alsan mengendalikan ugal2an di jln kmpung. Disisi lain jg mengancam pengendara yg tdk ugal2an jg keslmtan kndaraan shngga posisi bwh mtr pasti mentok. Mhn penertiban agar slng sama2 memproteksi bhaya dan mengutamakan bersama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: